Home Home PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

584
5

PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban?
(karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki)

3 PERISTIWA PENTING YANG TERJADI DI BULAN SYA’BAN

>1. PERALIHAN KIBLAT

Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban.
Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144
dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat
Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah subhaanahu wata’aala memerintahkan
Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasalam untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban
yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.

Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu
oleh Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasalam.
Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasalam berdiri menghadap langit
setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu
seperti Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit,
maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai.
Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

>2. PENYERAHAN REKAPITULASI KESELURUHAN AMAL KEPADA ALLAH SUBHAANAHU WATA’AALA.

Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini
semua amal kita diserahkan kepada Allah subhaanahu wata’aala.
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i
yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasalam.

“Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana
engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”

Kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasalam menjawab,
“Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban.
Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah subhaanahu wata’aala.
Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah subhaanahu wata’aala, aku dalam keadaan puasa.”

Penyerahan amal yang dimaksud dalam hal ini adalah penyerahan seluruh
rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun, menurut Sayyid Muhammad Alawi,
ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal
kepada Allah subhaanahu wata’aala selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan.
Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa
menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu.

>3. TURUNNYA AYAT TENTANG ANJURAN BERSHOLAWAT UNTUK RASULULLAH SHOLLALLAAHU ‘ALAIHI WASALAM

Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat untuk
Nabi Muhammad shollallaahu’alaihi wasalam, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat.
Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan.
Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani
dalam Al-Mawahib-nya, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa
ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah.

Sumber:
Kitab Ma Dza fi Sya’ban
Karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

RINGKASAN DI TAHUN KEDUA HIJRAH
DALAM KITAB KHULASAH :

>Dalam tahun kedua hijriyah berpindahlah kiblat dari baitul maqdis ke Ka’bah, setelah 16 bulan lamanya kaum Muslimin sholat menghadap kiblat ke baitul Maqdis

>Dalam bulan Sya’ban Allah mengharuskan kepada setiap muslimin untuk berpuasa di bulan Ramadhan agar mereka bisa merasakan haus dan lapar, dengan demikian menjadi halus dan baik jiwa dan ahlaknya. Sehingga mereka dengan mudah memberikan sedekah

>Di tahun yang sama, Allah mewajibkan zakat fitrah, dengan tujuan agar berbelas kasih kepada orang fakir-miskin dan orang yang lemah. Sehingga kebutuhan mereka bisa tercukupi, hati mereka bahagia

>Di syariatkan juga zakat harta benda, yang diberikan kepada delapan golongan agar tetap lah dihati mereka saling mencintai diantara miskin dan kaya, tolong menolong dan saling membantu sesama. Terjaminlah keamanan dan ketentraman diantara nya.

Sumber :
(Kitab khulasah Nurul Yaqin)

5 COMMENTS

Leave a Reply to Redaksi DMI Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here